pelaksanaan pembinaan karakter mahasiswa/i baru 2012

Bimbingan Krakteristik Mahasiswa/i Baru Tahun 2012

Acara ini dilaksanakan untuk menunjang karakter para mahasiswa/i ke arah yang lebih baik

—Karakter adalah nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika.
—Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan yang baik.
—Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai perilaku (karakter) kepada warga sekolah/universitas yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan yang baik

Acara seperti ini sangat banyak mamfaatnya,ada pun mamfaatnya:

—Mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
—Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
—Meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan melalui pembentukan karakter peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.

IMG00237-20120922-1118 IMG00239-20120922-1127 IMG00240-20120922-1128 IMG00241-20120922-1128 IMG00242-20120922-1129 IMG00243-20120922-1129 IMG00244-20120922-1133 IMG00245-20120922-1133 IMG00246-20120922-1153 IMG00247-20120922-1154 IMG00248-20120922-1158 IMG00249-20120922-1158 IMG00250-20120922-1209 IMG00251-20120922-1218 IMG00252-20120922-1434 IMG00253-20120922-1438 IMG00254-20120923-1107 IMG00256-20120923-1601

Apa Itu Uji Organoleptik ?

     Pengertian organoleptik

          Organoleptik merupakan pengujian terhadap bahan makanan berdasarkan kesukaan dan kemauan untuk mempegunakan suatu produk. Uji Organoleptik atau uji indera atau uji sensori sendiri merupakan cara pengujian dengan menggunakan indera manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap produk. Pengujian organoleptik mempunyai peranan penting dalam penerapan mutu. Pengujian organoleptik dapat memberikan indikasi kebusukan, kemunduran mutu dan kerusakan lainnya dari produk.

Adapun syarat-syarat yang harus ada dalam uji organoleptik adalah adanya contoh (sampel), adanya panelis, dan pernyataan respon yang jujur. Dalam penilaian bahan pangan sifat yang menentukan diterima atau tidak suatu produk adalah sifat indrawinya.Penilaian indrawi ini ada enam tahap yaitu pertama menerima bahan, mengenali bahan, mengadakan klarifikasi sifat-sifat bahan, mengingat kembali bahan yang telah diamati, dan menguraikan kembali sifat indrawi produk tersebut.

Dalam Uji organoleptik harus dilakukan dengan cermat karena memiliki kelebihan dan kelemahan. Uji organoleptik memiliki relevansi yang tinggi dengan mutu produk karena berhubungan langsung dengan selera konsumen.Selain itu, metode ini cukup mudah dan cepat untuk dilakukan, hasil pengukuran dan pengamatannya juga cepat diperoleh.Dengan demikian, uji organoleptik dapat membantu analisis usaha untuk meningkatkan produksi atau pemasarannya. Uji organoleptik juga memiliki kelemahan dan keterbatasan akibat beberapa sifat indrawi tidak dapat dideskripsikan.Manusia merupakan panelis yang terkadang dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan mental, sehingga panelis dapat menjadi jenuh dan menurun kepekaannya.Selain itu dapat terjadi pula salah komunikasi antara manajer dan panelis.

B.  Tujuan Uji Organoleptik

Tujuan diadakannya uji organoleptik terkait langsung dengan selera. Setiap orang di setiap daerah memiliki kecenderungan selera tertentu sehingga produk yang akan dipasarkan harus disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Selain itu disesuaikan pula dengan target konsumen, apakah anak-anak atau orang dewasa. Tujuan uji organoleptik adalah untuk:

  •  pengembangan produk dan perluasan pasar
  •  pengawasan mutu –> bahan mentah, produk, dan komoditas
  •  perbaikan produk
  •  membandingkan produk sendiri dengan produk pesaing
  • vevaluasi penggunaan bahan, formulasi, dan peralatan baru.

C.       Hal-hal yang tercakup dalam pengujian organoleptik

1. Panelis

Untuk penilaian mutu atau analisa sifat-sifat sensorik suatu komoditi panel bertindak sebagai instrumen atau alat. Panel adalah satu atau sekelompok orang yang bertugas untuk menilai sifat atau mutu benda berdasarkan kesan subyektif. Jadi penilaian makanan secara panel adalah berdasarkan kesan subyektif dari para panelis dengan orosedur sensorik tertentu yang harus dituruti.

Dalam penilaian organoleptik dikenal beberapa macam panel. Penggunaan panel-panel ini dapat berbeda tergantung dari tujuannya. Ada 6 macam panel yang biasa digunakan, yaitu :

1) Pencicip perorangan (individual expert).

2) Panel pencicip terbatas (small expert panel).

3) Panel terlatih (trained panel).

4) Panel takterlatih (untrained panel).

5) Panel agak terlatih.

6) Panel konsumen (consumer panel).

Dalam penilaian organoleptik seorang panelis membutuhkan indra yang berguna dalam menilai sifat indrawi suatu produk yaitu :

  • Penglihatan yang berhubungan dengan warna kilap, viskoditas, ukuran dan bentuk, volume kerapatan dan berat jenis, panjang lebar dan diameter serta bentuk bahan.
  •  Indra peraba yang berkaitan dengan struktur, tekstur dan konsistensi. Struktur merupakan sifat dari komponen penyusun, tekstur merupakan sensasi tekanan yang dapat diamati dengan mulut atau perabaan dengan jari, dan konsistensi merupakan tebal, tipis dan halus.
  • Indra pembau, pembauan juga dapat digunakan sebagai suatu indikator terjadinya kerusakan pada produk, misalnya ada bau busuk yang menandakan produk tersebut telah mengalami kerusakan.
  •  Indra pengecap, dalam hal kepekaan rasa , maka rasa manis dapat dengan mudah dirasakan pada ujung lidah, rasa asin pada           ujung dan pinggir lidah, rasa asam pada pinggir lidah dan rasa pahit pada bagian belakang lidah.

2. Laboratorium Penilaian Organoleptik

Laboratorium penilaian organoleptik adalah suatu laboratorium yang menggunakan manusia sebagai alat pengukur berdasarkan kemampuan penginderaannya. Laboratorium ini perlu persyaratan tertentu agar diperoleh reaksi kejiwaan yang jujur dan murni tanpa pengaruh faktor-faktor lain.

1) Unsur-Unsur Penting dalam Laboratorium Penilaian Organoleptik

  • Suasana : meliputi kebersihan, ketenangan, menyenangkan, kerapihan, teratur serta cara  penyajian yang estetis.
  • Ruang : meliputi ruang penyiapan sampel / dapur, ruang pencicipan, ruang tunggu para      panelis dan ruang pertemuan para panelis
  • Peralatan dan Sarana : meliputi alat penyiapan sampel, alat penyajian sampel, dan alat komunikasi (sistem lampu, format isian, format instruksi, alat tulis).

2) Persayaratan Laboratorium Penilaian Organoleptik

Untuk menjamin suasana tenang seperti tersebut di atas diperlukan persyaratan persyaratan khusus di dalam laboratorium.

  • Isolasi : agar tenang maka laboratorium harus terpisah dari ruang lain atau kegiatan lain,pengadaan suasana santai di ruang tunggu, dan tiap anggota perlu bilik pencicip tersendiri
  • Kedap Suara : bilik pencicip harus kedap suara, laboratorium harus dibangun jauh dari keramaian
  • Kadar Bau : ruang penilaian harus bebas bau-bauan asing dari luar (bebas bau parfum/rokok panelis), jauh dari pembuangan kotoran dan ruang pengolahan.
  • Suhu dan Kelembaban : suhu ruang harus dibuat tetap seperti suhu kamar (20-250C) dan kelembaban diataur sekitar 60%.
  • Cahaya : cahaya dalam ruang tidak terlalu kuat dan tidak terlalu redup.

3) Bilik Pencicip (Booth)

Bilik pencicip terdapat dalam ruang pencicipan, bilik ini berupa sekatan-sekatan dengan ukuran panjang 60-80 cm dan lebar 50-60 cm. Bilik pencicip berupa bilik yang terisolir dan cukup untuk duduk satu orang panelis. Hal ini dimaksudkan agar tiap panelis dapat melakukan penilaian secara individual.

Tiap bilik pencicip dilengkapi dengan :

  •  Jendela (untuk memasukkan sampel yang diuji);
  • Meja (untuk menulis/mencatat kesan, tempat meletakkan sampel, gelas air kumur);
  • Kursi bundar ;
  •  Kran pipa air, penampung air buangan.

4) Dapur Penyiapan Sampel

Dapur penyiapan sampel harus terpisah tetapi tidak terlalu jauh dari ruang pencicipan. Bau-bauan dari dapur tidak boleh mencemari ruang pencicipan. Kesibukan penyiapan sampel tidak boleh terlihat atau terdengar panelis di ruang pencicipan.

D.   Metoda Pengujian Organoleptik

Cara-cara pengujian organoleptik dapat digolongkan dalam beberapa kelompok:

  •       Kelompok Pengujian Pembedaan (Defferent Test)
  •       Kelompok Pengujian Pemilihan/Penerimaan (Preference Test/Acceptance Test)
  •       Kelompok Pengujian Skalar
  •       Kelompok Pengujian Diskripsi

E.   Beberapa Masalah Yang Memerlukan Informasi / Pemecahan Dari Segi Organoleptik

1) Pengembangan Produk

Suatu produk baru yang khas maupun yang tiruan (imitasi) secara umum perlu diketahui aseptabilitasnya. Untuk itu dapat dilakukan uji hedonik dan uji pembedaan

2) Perbaikan Produk

Perbaikan produk dapat diukur secara obyektif maupun subyektif atau secara organoleptik. Dalam uji ini perlu diketahui : apakah produk baru berbeda dan lebih baik dari produk lama? Apakah produk baru lebih disukai dari produk lama?

3) Penyesuaian Proses

Termasuk dalam penyesuaian proses ialah penggunaan alat baru, pemakaian bahan baru dan perbaikan proses. Tujuannya untuk efisiensi atau menekan biaya pengolahan tanpa mempengaruhi mutu. Jadi uji yang digunakan adalah uji pembedaan, uji skalar ataupun uji hedonik.

4) Mempertahankan Mutu

Masalah yang sangat penting dalam industri adalah mempertahankan mutu dan keseragaman mutu. Agar hal tersebut dapat dicapai maka perlu diperhatikan pengadaan bahan mentah, pengolahan / produksi dan pemasaran. Uji yang digunakan adalah : uji pembedaan, uji skalar ataupun uji hedonik.

5) Daya Simpan

Selama penyimpanan atau pemasaran produk akan mengalami penurunan mutu maka perlu dilakukan pengujian. Hasil uji ini sekaligus dapat menetapkan umur simpan. Uji yang dapat dilakukan adalah uji pembedaan, uji skalar, uji hedonik, dan uji diskripsi

6) Pengkelasan Mutu

Dalam pengkelasan mutu perlu dilakukan sortasi yang teliti menurut kriteria baku dan spesifikasi baku yang ditetapkan. Uji yang dipakai adalah uji skalar.

 

7) Pemilihan Produk atau Bahan Terbaik

Untuk keperluan suatu proses perusahaan perlu memilih salah satu atau lebih bahan sejenis (varietas tertentu), maka uji yang dilakukan meliputi uji pembedaan, uji penjenjangan, uji skalar dan uji diskripsi.

8) Uji Pemasaran

Uji pemasaran tidak dilakukan di dalam laboratorium melainkan di tempat umum, di pasar atau di toko. Untuk itu digunakan uji pembedaan sederhana dan uji hedonik

9) Kesukaan Konsumen

Diantara beberapa produk yang sama, ingin diketahui produk mana yang paling disukai. Uji organoleptik yang digunakan adalah uji hedonik

10) Seleksi Panelis

Uji organoleptik yang banyak digunakan untuk memilih anggota sampel adalah uji pembedaan, uji skalar dan uji diskripsi.

Penanganan Hasil Perikanan (PHP)

Penanganan Hasil Perikanan..

Kita tahu bahwa Ikan merupakan hewan yang mudah busuk sehingga banyak orang yang masih belum tahu cara penanganan ikan yang baik dan benar. Sebenarnya ada faktor-faktor yang mempengaruhi mutu ikan. Jika kita sudah mengetahui faktor faktor tersebut,kita bisa meminimalisir pembusukan pada ikan tresebut. Saat ikan hidup,sudah terdapat bakteri yang menempel pada tubuh ikan,berkisaran sekitar 10 sampai 10 gram pada insang ikan sedangkan pada perut lebih relativ sedikit akan tetapi apabila perut mengalami kekenyangan akan mengandung 10 gram bakteri. Berikut ini merupakan faktor yang mempengaruhi mutu ikan :

1. Faktor biologis Faktor ini terdapat pada ikan itu sendiri yaitu jenis ikan,besar ikan dan biologisnya sendiri. Ikan yang masih kecil akan mudah membusuk dibanding ikan yang sudah dewasa hal ini dikarenakan ikan ang masih kecil mempunyai daging yang belum kompak dan permukaan dagingnya yang masih sempit. Jika permukaan daging sempit otomatis bakteri akan cepat menyebar dan cepat pula pembusukan pada ikan,berbeda dengan jenis ikan yang sudah dewasa. Jika pada ikan dewasa daging ikan sudah mulai kompak dan permukaan tubuh luas sehingga bakteri untuk berkembangbiak akan relatif lama dibanding dengan ikan yang masih kecil. Pada ikan yang masih kenyang,dinding perut akan mengalami penguraian dan pembusukan. Jenis makanan juga berpengaruh pada mutu ikan. Tingkat kedewasaan seksual ikan juga berpengaruh.

2. Faktor penanganan Penangananan itu sendiri perlakuan yang dilakukan oleh manusia terhadap ikan itu sendiri. Pada saat ikan yang baru saja ditangkap dan sampai ke konsumen terdapat proses penanganan yang harus lebih hati hati dalam penanganannya. Cara penangkapan juga berpengaruh semisal ikan yang ditangkap dengan gill net atau trawl akan berbeda mutunya dengan ikan yang ditangkap dengan alat tangkap paying atau purseine. Jika ikan mengeluaran tenaga banyak maka semakin cepat pula ikan mengalami pembusukan. Penanagan di kapal juga berpenagruh . saat ikan mulai ditangkap,perlu penanganan yang ekstra hati-hati. jangan sampai ikan mati dengan cara lama,hal ini dikarenakan akan mempercepat pembusukan.

 

llllllllkkkkk  lllllllllllll   ClickHandler.ashx

Kulit Udang Pengganti Formalin

Mengawetkan makanan supaya tahan lama dan tetap berkualitas dapat menggunakan bahan alami yang tidak berbahaya, kitosan atau chitosan. Tetapi, hingga sekarang tidak banyak yang menggunakannya. Padahal, cara membuatnya tergolong sangat mudah.Bagi yang biasa memperoleh bahan baku limbah udang berupa bagian kulit dan kepala, bisa menjadikannya sebagai kitosan. Cara membuatnya yang sederhana, bisa diikuti seperti yang dikembangkan Institut Pertanian Bogor (IPB).
”Kemampuan kitosan memang tidak sehebat formalin, tetapi kitosan lebih ramah lingkungan dan dari segi kesehatan lebih menguntungkan masyarakat,” kata Kepala Laboratorium Bioteknologi pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Linawati Hardjito, Rabu (21/4).
Menurut Linawati, formalin bisa mengawetkan ikan tangkapan sampai dua bulan. Ikan hanya direndam dalam larutan formalin, tanpa perlu dibekukan menggunakan es.
Adapun kitosan hanya bisa mengawetkan ikan selama satu atau dua minggu, serta masih harus menggunakan es.
”Penggunaan kitosan hanya untuk mengurangi 70 persen penggunaan es,” kata Linawati.
Risiko besar
Meskipun formalin penggunaannya lebih praktis, risikonya bagi kesehatan sangat besar. Pada orang dewasa, misalnya, formalin dapat menyebabkan kanker, gangguan saraf, ginjal, saluran pernapasan, dan menyebabkan infertilitas pada perempuan. Kalaupun melahirkan, bayi yang dilahirkan berisiko tidak sempurna pembentukan tubuhnya.
Linawati menyarankan pemerintah agar membuat kebijakan mencegah penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan dengan mengubahnya menjadi berasa pahit. Caranya, tinggal ditambahkan bahan bitrex seperti yang dilakukan di sejumlah negara.
Membuat kitosan tidaklah sulit. Limbah kulit dan kepala udang memiliki bobot 35 sampai 50 persen bagian udang.
Pada tahap pertama, diberi istilah demineralisasi atau penghilangan kandungan mineralnya.
”Kandungan mineralnya adalah kalsium yang membuat cangkang dan kepala udang itu keras,” ujar Linawati.
Limbah rajungan dan kepiting sebenarnya juga bisa dijadikan bahan baku kitosan. Tetapi, kandungan kalsiumnya lebih tinggi sehingga cangkang dan kepalanya lebih keras.
Dicelup asam
Tahap demineralisasi dilakukan dengan cara mencelupkannya ke dalam larutan asam cuka kandungan 1 persen sampai 3 persen. Gunanya adalah untuk melarutkan. Gunakanlah asam cuka untuk bahan makanan di pasaran bebas yang memiliki kandungan 30 persen.
Limbah udang dengan larutan asam lalu direbus selama 1 sampai 3 jam dengan suhu antara 90-100 derajat celsius. Setelah itu, dicuci sampai bersih.
Tahap kedua, diberi istilah deproteinasi atau penghilangan protein. Caranya sama dengan tahap pertama. Larutannya diganti larutan basa 1 persen-3 persen. Sumber larutan bisa diperoleh dari natrium hidroksida atau soda api.
Begitu sudah selesai dimasak, limbah udang dicuci dengan air tawar hingga bersih. Kemudian dikeringkan.
Jadilah bahan tersebut sebagai kitin (chitin). Kitin sangatlah halus dan ringan berwarna putih bersih. Bobot kitin diperoleh tidak lebih dari 20 persen bahan baku limbah udang.
Untuk mengolah kitin menjadi kitosan, tinggal selangkah lagi. Kitin dilarutkan ke dalam larutan basa pekat 40 persen. lalu dimasak dengan suhu 90-100 derajat celsius selama 5 sampai 7 jam. Setelah itu, padatan kitin dicuci dan dikeringkan, jadilah kitosan.
Tidak hanya berfungsi sebagai pengawet makanan, kitosan juga baik sekali dikonsumsi orang yang bermasalah dengan lemak darah. Menurut Linawati, kitosan memiliki fungsi menyerap lipid dan lemak darah.
Konsumsi kitosan baik bagi yang memiliki penyakit, seperti hipertensi atau diabetes melitus. Kitosan akan mengikat lemak darah untuk mengurangi risiko dampak buruk dari kedua jenis penyakit tersebut.
”Satu hal yang harus diperhatikan dalam membuat kitosan, yaitu ketika memasak dengan larutan asam dan basa, jangan menggunakan panci aluminium. Itu akan mudah terkikis,” kata Linawati.
Dia menyarankan, agar digunakan panci yang dilapisi kaca atau logam khusus yang tidak korosif oleh asam dan basa. Panci dari tanah liat memiliki peluang untuk digunakan.
Aplikasi kitosan untuk pengawetan bahan makanan, menurut Linawati, berkisar antara 0,2 persen hingga 1 persen. Untuk pengawetan tahu, bakso, dan jenis makanan ringan lainnya cukup dengan 0,2 persen kitosan. Untuk pengawetan ikan tangkapan nelayan harus mencapai 1 persen konsentrasi kitosan.
IPB melakukan riset kitosan sejak sekitar tahun 2000. Kini, IPB memproduksi 300 kilogram bubuk kitosan per bulan. Jika dijadikan kitosan cair menjadi 5.000 liter.
Kitosan buatan IPB dipasarkan dengan harga Rp 55.000 per liter-lebih murah dari harga formalin. Formalin di toko kimia dengan ukuran 1 liter harganya berkisar Rp 250.000. Dengan ukuran 2,5 liter harganya sekitar Rp 150.000-Rp 60.000 per liter.
Kitosan juga bisa untuk mengawetkan buah-buahan dengan cara mencelupkannya ke dalam larutan kitosan tersebut. Larutan kitosan itu pun dapat dipergunakan berkali-kali.
”Kitosan memiliki kandungan antibakteri atau antimikrobia dan aman untuk dikonsumsi. Kitosan seperti formalin pula, yaitu tidak mengubah rasa dan bau pada bahan makanan yang ingin diawetkan,”